UKHUWAH ISLAMIYAH

http://eddysyahrizal.blogspot.com

Makalah pada Forum Kajian Mahasiswa ESQ 165 Pekanbaru, Kamis, 31 Juli 2008

Muqaddimah

Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan Ukhuwah sebagai berikut:

Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokohnya dan semulia-mulianya ikatan. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan sedangkan perpecahan adalah saudaranya kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih. Standar minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan standar maksimal adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri).”

Barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (Al-Hasyr:9)

Akh yang tulus melihat saudara-saudaranya lain lebih utama dari dirinya sendiri, karena jika tidak bersama mereka, ia tidak bisa bersama yang lain. Sememtara mereka jika tidak bersama dengan dirinya bisa bersama yang lain. Sesungguhnya Srigala hanya akan memakan Domba yang terpisah sendirian. Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnyaibarat sebuah bangunan, yang satu mengokohkan yang lain.

Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi pelindung bagi lainnya (At-Taubah:71)[1]

Lalu Ustadz Sa’id hawwa Memberikan komentar:

1. Ahmad Syauqi berkata,”kawan kala berpolitik, musuh kala berkuasa.” Persaudaraan di kalangan anggota berbagai institusi politik tidak akan terjalin kokoh. Hal ini disebabkan persaingan sesame mereka untuk mendapatkan posisi maupun keuntungan materi. Memang, unsure materi jika memasuki suatu wilayah pasti akan merusaknya. Mengomentari hubungan persaudaraan semacam ini, sebagian mereka mengatakan,”musuh dalam selimut adalah sahabat terbuka.” Hal yang serupa dengan ini tidak mungkin mendasari tegaknya Islam dan tidak mungkin mewujudkan cita-citanya. Oleh karenanya, persaudaraan (ukhuwah) yag hakiki menjadi salahsatu rukun Bai’at.

2. Imam Hasan Al Banna menunjukkan kepada kita beberapa indicator, yang dengannya kita mengetahui adanya persaudaraan, yakni rasa cinta. Standar minimal dari rasa cinta ini adalah bersikap lapang dada sesama akhul muslim. Sedangkan standar maksimal adalah itsar (mementingkan orang lain atas diri sendiri) kepada sesama manusia atas urusan dunia, seperti pangkat dan kedudukan. Cinta tidak dapat terwujud dalam suatu barisan kecuali seseorang bersikap zuhud terhadap harta yang ada di tangan orang lain. Rasulullah bersabda:

“zuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan zhudlah engkau terhadap harta yang berada di tangan orang lain, niscaya orang lain akan mencintaimu.

3. Tidak ada yang dapat melanggengkan ukhuwah kecuali taat kepada Allah dan menjauhi larangannya.

4. Tiada sesuatu yang mencegah runtuhnya Ukhuwah selain iman dan amal Shalih.

5. Musuh Allah Iblis sangat membenci terbangunnya Ukhuwah dan kasih sayang sesama da’i.[2]

Pengertian Ukhuwah

Bahasa

Kata Ukhuwah berakar dari kata akha. Misalnya dalam kalimat “akha Fulanun Shalihan” (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). Selain kata ukhuwah, ada kata muakhah. Orang disebut akh anda, jika ia adalah orang yang mempunya hubungan persaudaraan dengan anda, baik saudara kandung, saudara seayah, saudara seibu, mapun saudara sesusuan.

Akh bisa juga berarti syarik (sekutu), muwasi (penolong), matsil (penyerupa), shahib mulazim (sahabat setia), atau akh seseorang bisa berarti pengikut pendapat seseorang. Kata akh juga dipakai secara umum untuk menyebut setiap orang yang menyertai orang lain, baik dalam cinta,pekerjaan maupun agamanya.[3]

Al Qur’an

Karena itu, ukhuwah menuntut seseorang untuk mengasihi saudaranya. Karena itulah Al Qur’an menyebutkan bahwa seorang nabi adalah akh bagi kaumnya dan bagi semua orang yang mereka dakwahi. Allah Swt berfirman :

Dan kami mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagi kalian selain Dia.’” (Al-A’raf:73)

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud, saudara mereka Shalih. Ia berkata kepada kaumnya,’Hai kaumku sembahlah Allah, Sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kamu selain Dia.’” (Al-A’raf:73)[4]

Dalam beberapa ayat lain Allah Swt berfirman :

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran:104)

Dua ayat diatas berurutan terdapat tuntutan-tuntutan yang harus dilaksanakan oleh orang-orang Muslim yang menjalin ukhuwah Islamiah, dengan ukhuwah ini mereka tolong-menolong untuk melaksanakan tuntutan tersebut, yaitu :

a. Berpegang teguh kepada tali Allah, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang juga berpegang teguh kepada manhajnya

b. Menjauhkan diri dari perpecahan dan permusuhan dengan cara meninggalkan factor-faktor pemicunya.

c. Hendaklah hati kalian disatukan dengan mahabbah (cinta) karena Allah, sehingga dengan nikmat ini kalian menjadi orang-orang yang bersaudara.

d. Mendakwahkan kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran.

Lalu ditegaskan oleh Allah Swt dengan firmannya:

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat (49): 10)

Dijelaskan oleh Imam Qurthubi, maksudnya adalah ukhuwah dalam agama dan kesucian, bukan keturunan.”

Ibnu Katsir mengatakan,”Semuanya adalah saudara seagama, sebagaimana Rasulullah bersabda,’Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain; tidak menzhalimi dan mencelakakannya.’”[5]

As-Sunnah

“Janganlah kalian saling mendengki, saling najasy (menawarkan barang agar orang lain membeli dengan harga mahal), saling membenci, saling memusuhi, dan jangan membeli barang yang sedang di tawar orang lain. Hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim saudara bagi muslim yang lain, tidak menzhalimi, tidak membiarkan (saat ia membutuhkan pertolongan) dan tidak menghinanya. Taqwa ada di sini (sambil menunjuk dadanya 3 kali).” (H.R Muslim dari Abu Hurairah ra)

“Seseorang sudah cukup disebut jahat apabila ia menghina saudaranya sesame Muslim. Darah, harta dan kehormatan setiap Muslim adalah Haram bagi Muslim lainnya.” (H.R Muslim dalam sahihnya bab: Tahrim Zhulm Al Muslim wa Khadzlih)

Banyak juga hadist-hadist semisal dengannya. Dari hadist diatas maka dapat kita ambil pelajaran bahwa yang dimaksud ukhuwah adalah :

a. Ia cinta karena Allah dan ketulusan hati seorang mukmin terhadap saudaranya sesame mukmin.

b. Ia adalah penghormatan seorang mukmin terhadap mukmin lainnya, baik pada saat berhadapan maupun di tempat yang jauh.

c. Ia adalah larangan mengabaikan apaun juga yang menjadi hak saudaranya

d. Ia juga berarti larangan memandangnya dengan pandangan merendahkan

e. Ia berarti larangan mendengki, menawar dengan harga tinggi untuk menipunya, membenci, memutuskan hubungan, membeli barang yang tengah di tawar, melamar lamarannya, menzhaliminya, menghinanya, membiarkannya di kala butuh pertolongan

f. Pengharaman atas darah, harta dan kehormatannya

g. Ia berarti tolong menolong salam melaksanakan kewajiban dan ketaqwaan, serta berdakwah menuju kebaikan

h. Ia berarti bersatu dan meninggalkan factor-faktor yang memicu terjadinya perpecahan

i. Ia berarti memelihara seluruh haknya (yakni dalam darah, harta dan kehormatannya)

j. Ia berarti melaksanakan kewajiban-kewajiban yang harus diberikan kepadanya tanpa di minta

k. Ia berarti mendahulukan kepentingan saudaranya dari kepentingannya sendiri.[6]

Menurut Orang Barat (Eropa)

1. Hubungan kekerabatan antara dua orang bersaudara seketurunan dengan hubungan kekerabatan karena satu Ibu dan satu Bapak.

2. Organisasi profesi untuk meningkatkan taraf hidup mereka

3. Organisasi keagamaan yang bertujuan meninggalkan gaya hidup materialistis, menjaga kehormatan diri, dan taat sepenuhnya. Mendapat pengesahan dari gereja tertentu yang mereka ikuti.

4. Organisisi social baik bersifat tertutup atau terbuka. Contohnya Freemansory dan Rotary Club. [7]

Standar Ukhuwah dan Syarat-syaratnya

Rasulullah bersabda:

“Seseorang bisa terpengaruh oleh agama sahabat karibnya. Oleh karena itu, perhatikanlah salah seorang diantara kamu dengan siapa ia bergaul.” (H.R Abu Dawud, Ahmad, Hakim dan Tirmizi, ia mengatakan hadist Hasan)

Dan Firman Allah Swtmemberikan batasan ukurannya melalui bahasa Nabi Musa As :

“dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dia dengan kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami (Q.S Thaha (20): 29-35)

Maka standard an syarat-syarat ukuhuwah itu antara lain:

  1. Ukhuwah harus benar-benar murni karena Allah Swt.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah:” dari Rasulullah Saw beliau berkisah,’ sessunguhnya ada seseorang yang akan berkunjung ke tempat saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah mengutus malaikat untuk mengujinya, setelah malaikat itu berjumpa dengannya, ia bertanya, “apakah kamu merasa berhutang budi sehingga kamu mengunjunginya?” Ia menjawab,” tidak, saya mengunjunginya dan mencintainya karena Allah.” Malaikat itu berkata,”Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk menjumpaimu, dan Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah.” (H.R Muslim)

  1. Ukhuwah harus disertai dengan iman dan taqwa, hal ini bisa dilakukan dengan memilih sahabat seiman dan memilih teman yang memiliki kualitas taqwa serta serta keshalihan di samping juga memiliki akhlak yang baik. Allah berfirman:

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang ang bertakwa.” (Q.S Az-Zukhruf (43): 67)

  1. Ukhuwah harus konsisten dengan ajaran Islam yang selalu merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah serta jauh dari khurafat dan bid’ah. Rasulullah mengisyaratkannya dalam sebuah hadist:

“Dua orang lelaki yang saling menjamin persahabatan karena Allah mereka akan bersama dan berpisah atas dasar Allah.” (H.R Bukhari dan Muslim dari As-Sab’ah)

  1. Ukhuwah harus didasarkan pada saling memberi nasehat di jalan Allah. Konon sahbat Rasulullah juga saling menasehati diantara mereka dan berjanji kepada Nabi untuk saling menasehati. Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim dari Jabir dari Abdulllah Ra, ia berkata,”Aku berjanji kepada Rasulullah untuk melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dan member nasehat kepada semua Muslim.”
  2. Ukuwah dibangun atas dasar saling membantu dan menyokong satu sama lain baik dalam suka maupun duka. Rasulullah bersabda:” perumpamaan seorang Mukmin dalam masalah mengasihi dan menyayangi satu sama lain diantara mereka adalah seperti satu tubuh, jika salahsatu anggota tubuh mengeluhkan rasa sakit maka yang lain akan mengeluh tidak bisa tidur dan panas.” (H.R Bukhari dan Muslim)[8]

Peringkat-Peringkat Ukhuwah Dalam Islam

A. Ta’aruf

Kata ta’aruf berarti saling mengenal sesame manusia. Misalnya kalimat Ta’arafu ila fulan artinya: saya meperkenalkan diri kepada si Fulan. Tidak termasuk dalam pengertian ta’aruf jika konteksnya membanggakan diri dengan garis keturunan, pangkat maupun harta. Karena itu semua bukanlah ukuran yang tepat untuk mengenal manusia, sebab ukuran yang benar adalah ketaqwaan kepada Allah swt.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Durrah binti Abu Lahab ra (Istri Abdullah bin Umrah ra) yang berkata,

“seorang lelaki menghadap Rasulullah saw. Ketika beliau berada diatas mimbar. Ia bertanya,’Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik ? ia menjawab,’ manusia yang paling baik adalah yang paling banyak membaca Al-Qur’an, bertakwa kepada Allah Swt, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah kemungkaran dan menyambung tali silaturrahmi.’”

Dan Allah swt berfirman :

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempun dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat(49): 13)[9]

B. Ta’aluf

Ta’aluf berarti bersatunya seorang muslim dengan muslim lainnya, bersatunya seseorang dengan orang lain. Ta’aluf berasal dari kata ilf yang artinya persatuan.I’talafu an-nasu artinya orang-orang yang bersatu dan bersepakat.

Kata ulfah serupa dengan kata ilf memiliki makna kecintaan kepada Allah Swt, kepada orang-orang beriman yang hati mereka dipersatukan oleh Allah Swt. Allah berfirman:

ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara (Ali Imran (49): 13)

“walaupun kalian membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi , niscaya kalian tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka (Al-Anfal: 63)

Rasulullah Saw bersabda:

“Ruh-ruh itu disatukan ibarat tentara-tentara yang terkoordinasi; yang saling mengenal niscaya bersatu; sedangkan yang tidak saling mengenal akan berpisah.” (H.R Muslim dari Abu Hurairah)

“Orang mukmin itu mudah disatukan. Tidak ada kebaikan orang yang tidak bisa menyatu dan tidak bisa mempersatukan.” (H.R Imam Ahmad dalam musnadnya,III/400,al Halabi, Mesir, 1313 H)[10]

C. Tafahum

Hendaklah terjalin sifat Tafahum (saling memahami) antara seorang muslim dengan saudaranya sesam muslim, yang diawali dengan kesepahaman dalam prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, lalu dalam masalah-masalah cabang yang perlu di pahami secara bersama. Adapun prinsip yang harus dipahami oleh setiap muslim adalah sebagai berikut :

a. Berpegang teguh hanya kepada aturan Allah.

b. Berpegang kepada tali Allah yaitu Al-Qur’an

c. Tolong-menolong dalam menaati Allah dan RAsulullah

d. Mengadakan Ikrar menolong agama Allah dan kebenaran

e. Berupaya menghilangkan sebab-sebab kedengkian[11]

D. Ri’ayah dan Tafaqud

Pengertian ri’ayah dan tafaqud adalah hendaknya seseorang muslim meperhatikan keadaan saudaranya agar ia bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan.

Rasulullah bersabda:

“tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dinya.” (H.R Bukhari dan Muslim sanadnya dari Anas ra)

“Barang siapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahan di hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang musli,, niscaya Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selam dia menolong saudaranya” (H.R Muslim sanadnya dari Abu Hurairah)[12]

E. Ta’awun

Ta’awun berarti saling membantu. Allah Swt telah memerintahkan hamba-hambanya yang beriman untuk bantu-membantu dalam melaksanakan kebaikan dan disebut dengan kata al-birr meliputi hal-hal yang wajib dan mandub (sunnah) sedangkan taqwa berarti menjaga kewajiban. Allah Swt melarang orang-orang beriman untuk bantu membantu dalam kebatilan dan berbuat dosa.

Adapula yang mengatakan bahwa pengertian al-itsmu adalah meninggalkan apa yang diperintahkan Allah sedangkan al-‘udwan berarti melanggar apa yang dilarang Allah dalam agama-Nya.

Indikasi-indikasi ta’awun antara lain:

a. Ta’awun memerintahkan yang ma’ruf, mengamalkan kebaikan dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan petunjuk Isam

b. Ta’awun meninggalkan kemungkaran, hal yang diharamkan bahkan hal yang makruh.

c. Ta’awun dalam mendekatkan dan mendorong manusia berada diatas kebenaran, menghubungkan mereka dengan petunjuk dan selalu berupaya merubah mereka sesuai dengan petunjuk Allah.

Rasulullah bersabda:

“Demi Allah, jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang karena dakwah yang kau sampaikan kepadanya, sungguh hal itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (H.R Abu Dawud dari sanadnya Sahl bin Sa’ad ra)[13]

F. Tanashur

Masih sejenis dengan ta’awun tetapi ruang lingkupnya lebih lua, lebih menggambarkan cinta dan loyalitas. Tanashur dua orang yang berukhuwah dalam Islam antara lain maknanya adalah :

a. Seseorang tidak menjerumuskan saudaranya kepada sesuatu yang buruk atau dibenci, tidak membiarkannya tatkala ia meraih kemaslahatan yang tidak membahayakan orang lain.

b. Hendaklah mencegah seorang saudaranya dan menolongnya dari setan yang membisikkan kejahatan kepadanya dan dari pikiran-pikiran buruk yang terlintas pada dirinya untuk menunda pelaksanaan amal kebaikan.

c. Menolongnya menghadapi setiap orang yang menghalanginya dari jalan kebenaran, jalan hidayah dan jalan dakwah.

d. Menolongnya baik saat menzhalimi maupun saat dizhalimi. Menolong saat menzhalimi yakini dengan cara mencegahnya dari perbuatan zhalim, sedangkan menolong saat dizhalimi adalah berusaha menghindarkannya dari kezhaliman yang menimpanya.[14]

Tujuh Kiat Menangkal Virus-Virus Ukhuwah

Dalam surat Al Hujurat (QS 49) Allah SWT memaparkan 7 kiat bagi kita untuk menangkal virus-virus ukhuwwah yang bisa menghancurkan shaf ukhuwwah yang telah dibina.

1.Tabayyun

Tabayyun berarti mencari kejelasan informasi dan mencari bukti kebenaran informasi yang diterima. Karena Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS 49:6)

2. ‘Adamus Sukhriyyah

Artinya tidak memperolok-olokkan orang atau kelompok lain. Firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman janganlah satu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan).” (QS 49:11)

Saat ini terdapat banyak kelompok atau organisasi dakwah. Harus kita sadari bahwa diantara kelompok-kelompok dakwah tersebut terdapat perbedaan yang prinsipil maupun yang tidak prinsipil. Perbedaan dalam menentukan al-hadaful a’la (sasaran tertinggi) termasuk dalam masalah prinsip.

Kondisi ini memancing suasana tanafus (persaingan) yang kadang bentuknya tidak sehat. Persaingan ini akan semakin tidak sehat dengan tampilnya oknum-oknum yang senang melontarkan ungkapan-ungkapan bernada cemooh persaingan.

Berhimpunnya kelompok-kelompok dakwah dan harakah yang ada di bumi sekarang ini adalah suatu mimpi indah. Sebagaimana yang ditulis DR.Yusuf Qardhawi, maka kesatuan wala’ (loyalitas) dan tumbuhnya suasana ta’awun dalam menghadapi konspirasi para thaghut adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi. Dan kalaupun hal ini belum terwujud karena ada beberapa hal yang belum bisa kita lakukan, maka tidak mampukah kita sekadar meninggalkan tradisi sukhriyyah dan perasaan ana khairun minhu (saya lebih baik daripadanya) seperti yang dinyatakan iblis???

3. ‘Adamul Lamz

Maksudnya tidak mencela orang lain. Ini ditegaskan dengan firman-Nya:

“Dan janganlah kamu mencela diri sendiri’. Mencela sesama muslim, oleh ayat ini dianggap mencela diri sendiri, sebab pada hakekatnya kaum muslimin dianggap satu kesatuan. Apalagi jika celaan itu adalah masalah status dan standar kebendaan. Allah sendiri menyuruh Rosul dan orang-orang yang mengikutinya untuk bersabar atas segala kekurangan orang-orang mukmin. (lLihat QS, 18:28).

4. Tarkut Tanabuz

Yakni meninggalkan panggilan dengan sebutan-sebutan yang tidak baik terhadap sesama muslim. Ini berdasarkan firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu saling memanggil dengan sebutan-sebutan (yang buruk).” (QS 49:11)

Tanabuz dalam bentuk yang paling parah adalah berupa pengkafiran terhadap orang yang beriman. Pada kenyataannya masih saja ada orang atau kelompok yang dengan begitu mudahnya menyebut kafir kepada orang yang tidak tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut.

5. Ijtinabu Katsirin minadzdzan

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.” (QS 49:12)

Pada dasarnya seorang muslim harus berbaik sangka terhadap sesamanya, kecuali jika ada bukti yang jelas tentang kesalahan tersebut. Dan sebaliknya, kepada orang kafir dan musuh Islam, kaum muslimin harus menaruh curiga bila mereka bermanis budi. Allah SWT sendiri menegaskan:

“Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta-harta mereka untuk mengahalangi manusia dari jalan Allah.” (QS 8:36)

6. Adamut Tajassus

‘Adamut Tajassus adalah tidak mencari-cari kesalahan dan aurat orang lain. Perbuatan ini amat dicela Islam. Setiap cara da’wah ada metodenya masing-masing, yang berusaha semaksimal mungkin mendekati cara berda’wah Rasulullah SAW. Allah SWT amat suka bila kita berusaha menutup aib saudara kita sendiri. Firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu sekalian mencari-cari kesalahan (dan aurat) orang lain.” (QS 49:12)

7. Ijtinabul Ghibah

Allah SWT menegaskan:

Dan janganlah kamu sekalian menggunjing sebagian lain.Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?…”

Ghibah sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah SAW adalah menceritakan keburukan dan kejelekan orang lain. Ketika seseorang menceritakan kejelekan orang lain, maka ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, jika yang diceritakannya benar-benar terjadi maka itulah ghibah. Kedua, jika yang diceritakannya itu tidak terjadi berarti ia telah memfitnah orang lain. Begitu besarnya dosa ghibah, sampai Allah SWT menyamakan orang yang melakukannya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.[15]


[1] Sa’id Hawwa, Membina Angkatan Mujahid Cetakan Kelima(Solo: Era Intermedia, 2005), hal. 176

[2] Ibid., hal. 176-177

[3] Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Merajut Benang-benang Ukhuwah Islamiah Cetakan Pertama (Solo: Era Intermedia, 2000), hal. 25

[4] Ibid., hal. 25-26

[5] Ibid., hal.27-28

[6] Ibid., hal. 28-30

[7] Ibid. hal 26

[8] Dr. Majdi Al Hilali, Rakaizud Dakwah, Konsep Dasar Gerakan Dakwah Cetakan Pertama (Surakarta: Media Insani Press, 2003), hal. 162-166

[9] Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Op.cit hal. 31-32

[10] Ibid., hal. 32-33

[11] Ibid., hal-32-36

[12] Ibid., hal. 36-38

[13] Ibid., hal. 38-40

[14] Ibid., hal. 40

[15] Hudzaifah.org Sunday, December 18, 2005 – 02:34 PM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: